“Tittittuiiiit.. tttuuiiiittttt.” Alunan merdu suling bambu yang
setiap siangnya memberi semangat warga kampung Parigede. Alunan merdu
itu berasal dari tiupan seorang pemuda tampan, pandai nan tekun di
kampung ini. Dialah Joko Pratomo, putra kebanggaan parigede. Srek,
srekk, srekk, satu per satu kakiku melangkah di atas rerumputan di dekat
sawah. Dengan langkah mengendap-endap aku mendekati Joko dari belakang,
bermaksud untuk mengagetkannya. Tetapi, mungkin Joko sudah merasakan
getaran langkahku, jadinya malah dia yang mengejutkanku.
“Hayooo!!! Mau ngapain?”
“Aaaaa, hih.. kamu ini, tadinya mau ngagetin, tapi malah keduluan,”
“Hahahaha.” Kemudian kami duduk dan mengobrol sambil membawa makanan yang ku bawakan untuk menemani obrolan santai kami.
“Yu, menurutmu aku kerja di mana? Lamaranku udah diterima di dua perusahaan, tapi aku bingung pilih yang mana.”
“Lah emang di mana aja Ko?”
“Yang satu di pabrik mie di Jakarta cuma jadi bagian pengemasan. Yang
satunya lagi di bali, tapi jadi supervisor di perusahaan pariwisata,”
“Ya kalau menurutku sih di Jakarta aja.. soalnya kan yang deket, biar kamunya juga biar lebih sering pulang,”
“Aku juga maunya gitu Yu, tapi msalahnya keluargaku ini keluarga susah, butuh duit banyak. Gak kayak keluargamu.”
“Ya udah terserahmu aja.” Saking keasyikannya mengobrol, kami sampai
tidak sadar jika langit sudah menampakkan mega merahnya. Kami pun
langsung pulang.
—
Siang hari yang benar-benar panas, aku duduk di depan rumahku dan
berkipas-ipas dengan kipas bambu buatan ibuku. Aku menunggu alunan
suling penyejuk dari Joko, tetapi sudah lewat dzuhur dari tadi, tidak
juga terdengar. Aku pun menghampiri tempat biasa Joko memainkan
sulingnya. Saat aku sampai di sana, aku tidak melihat Joko. Aku pun ke
rumahnya.
“Kulonuwun.” melongok kedalam rumah Joko yang pintunya terbuka.
“Monggo.. ono opo nduk Ayu?”
“Joko di mana yo Pakde?”
“Oalah nduk, Joko nggak ngasih tahu kamu toh, Joko udah berangkat ke bali pagi tadi.”
“Oh.. maturnuwun Pakde.”
Hari berganti hari bulan berganti bulan. Tetapi Joko tak kunjung
pulang ke kampung. Terbesit niat untuk pergi ke bali berkunjung ke
tempat Joko, tetapi aku masih ragu untuk kesana. Hingga akhirnya aku
berangkat ke bali. Saat aku sampai di sana, aku langsung mendatangi
pantainya yang indah. Berpakaian pendek, memakai topi pantai dan juga
kacamata hitam dengan rambut tergerai. Berjalan sedikit lenggak lenggok
untuk menutupi identitas desaku.
Aku berdiri di tengah hamparan pasir yang penuh dengan turis-turis
yang memenuhi tempat itu.
Kemudian aku berjalan ke salah satu cafe untuk
memesan satu perasan lemon. Dengan kaki tertumpang dan pandangan ke
pantai aku menikmati perasan lemon yang ku pesan, namun ada satu hal
yang membuatku langsung terkejut bukan kepalang, aku melihat Joko sedang
berjalan di tepi pantai bersama seorang pria lainnya, gayanya
benar-benar berubah. Aku melepas kacamataku untuk memastikan apakah dia
Joko atau bukan. Lalu aku berlari menghampirinya. Saat aku berada di
depannya. Aku tersenyum manis kepadanya. Namun ia terlihat pangling
melihatku. Aku pun membuka kacamataku.
“Heii Joko.. ini aku, Ayu.” dengan nada medok aku menyapanya.
Dengan raut wajah kesal, sebal, dan marah. Ia menarikku dan membawaku menjauh dari pria itu.
Dengan raut wajah kesal, sebal, dan marah. Ia menarikku dan membawaku menjauh dari pria itu.
“Ayu, di sini nama aku Jaka Pratama, Joko uda hilang kebawa laut. Yang ada sekarang adalah Jaka!! Inget Yu, Jaka!!”
“Iyo iyoo.” Tiba-tiba terdengar suara dari teman Joko.
“Ka, gue balik ya?”
“Oke bro.”
Aku benar-benar kaget mendengar logat bicaranya yang sudah berubah
seratus persen. Setelah itu aku dan Joko berjalan jalan dan sedikit
mengobrol di pantai. Dan saat sore tiba, aku diajak untuk pulang ke
rumahnya saja. Aku pun menurutinya. Saat sampai di rumahnya, aku melihat
ada temannya Joko yang tadi bersamanya. Lalu Joko mengenalkannya
kepadaku.
“Hei bro, ini sohib gue dari kecil, namanya Ayu. Yu, ini temen aku kerja, namanya Angga,”
“Ayu,” berjabat tangan. “Angga.” Kemudian kami masuk. Sementara mereka
berdua asyik mengobrol, aku ganti baju dan mandi. Setelah selesai, aku
ikut mengobrol dengan mereka.
“Joko.. boleh ikut nimbrung nggak?” Lalu Joko menatapku dengan
tatapan marah. Aku merasa terhina dengan itu. Aku pun langsung
membentaknya.
“Kenapa? Nama kamu kan emang Joko, pake diubah jadi Jaka segala!!!”
“Ayu, inget Yu, inget status kamu sekarang, sekarang ini kamu cuma orang numpang di sini, jadi jangan kurang ajar!!”
“Hah?! Orang numpang??! Heh.. kalau Bapakku nggak ngasih pkerjaan ke
Bapakmu, kamu gak akan ada di sini Jok, paling kamu sekarang ada sama
genangan lumpur!!”
“Ayuuu!!” Hendak menampar namun dihentikan oleh Angga.
Aku benar-benar merasa terhina dan kecewa di sini. Antara Jaka dan
Joko, itu benar-benar berbeda.Aku pun masuk ke kamar dan menangis
tertelungkup. Kemudian aku menulis surat untuk Joko yang sekarang
menjadi Jaka. “Jaka, atau aku harus menyebutmu tuan Jaka Pratama. Terima
kasih atas tumpangan kamarnya. Kamarnya sangat nyaman, walaupun tak
senyaman kamarku di kampung. Aku akan kembali ke kampung. Tetapi aku
ingin meminta tolong satu hal padamu. Tolong jika kau bertemu dengan
Joko, katakan padanya agar dia cepat pulang, kampung parigede sangat
merindukan alunan suling penyejuk darinya. Ayu.”
Kemudian aku pergi dari rumah Joko. Berulang kali ia membujukku untuk
tetap tinggal. Tetapi aku sudah terlanjur terhina. Haaaah.. akhirnya,
setelah aku merasakan hingar bingar bali, aku merasakan kembali
kedamaian di kampung parigede. Aku sangat lega telah sampai dengan
selamat. Aku benar-benar merindukan sosok Joko, yang belum menjadi Jaka.
Aku pergi ke tempat biasanya ia bermain suling. Aku menatap tempat ini
dengan senyum pahit dan bercampur air mata rindu. Aku benar-benar
merindukannya.
“Ayu!!”
Suara teriakan memecah suasana. Suara itu seperti suara Joko. Tetapi
mana mungkin ia ada di sini, dia kan sibuk di bali. “Ayu, maafkan aku..
berbaliklah, aku Joko.. bukan Jaka.” Aku pun berbalik dan melihat Joko,
aku melihat Joko, bukan Jaka. Ia berpakaian seperti dulu.
“Joko.. apa Jaka memanggilmu?”
“Nggak Yu, Jaka itu Joko.. mereka sama saja, dan sekarang aku telah kembali.”
“pekerjaanmu?”
“Sudah ku tinggal semuanya.”
Lalu kami duduk, dan Joko kembali memainkan sulingnya. Semuanya telah
kembali. Kembali seperti semula. Seperti saat Joko memainkan sulingnya
bukan Jaka yang menjadi supervisor pariwisata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar